Indecisiveness is fatal

Saya teringat bahwa dalam manajemen decision is everything. Bahkan dalam segala level. Suatu keadaan yang indecisive (tanpa keputusan) adalah suatu yang teramat membebani, karena itu indecisive period harus dibuat sesingkat mungkin.

Dalam istilah desain mikroelektronika digital, dikenal keadaan metastabile state - biasanya dalam flip-flop, di mana rangkaian tidak dapat mengenali lagi apakah sinyal internal itu 0 atau 1 (dalam dunia digital cuma ada 0 dan 1. Analog lebih luas dan "menantang"). Keadaan ini juga tidak disenangi karena bisa membuat rangkaian tidak berfungsi atau hanya berfungsi setelah ada faktor lain dari luar.

Kembali ke indecision, pengambilan keputusan dengan resiko yang dipertimbangkan adalah the best amongst the best. Idealnya waktu pengambilan keputusan dibuat sesingkat mungkin, perolehan informasi setepat (bukan "sebanyak") mungkin, dan resiko diantisipasi sedini mungkin. Lagi-lagi constrain-nya adalah resources (sumber daya), baik waktu, barang, maupun energi.

OK, saya kerja lagi ya… Kerja dari rumah di malam hari jelas kurang nikmat daripada kerja dari kantor di siang hari, tapi di musim panas begini, boleh juga…

One Response to “Indecisiveness is fatal”

  1. raditya eka Says:

    that’s why there are available managers to become the particular decision makers in each vital company.

    in fact, “gak memilih” termasuk pilihan juga lho, mas. apapun option yg di-klick sudah pasti ada richt dan link side nya. yang harus kita pikirkan paling kesiapan kita dalam menerima affects dan melaksanakan duty sebagai akibat dari perbuatan kita yang telah mengklik option yang bersangkutan.

    saya baru tahu kalo dunia silikon ternyata memiliki atmosfer emosi juga, setelah baca blog mas nano. keren banget. jangan2 jaman MATRIX sudah di depan mata. asyik tuh bisa ke munchen lewat kabel serat optik hehehehe …

Leave a Reply